Monograph
Hari Hari Huru Hara - Putiba
HARI HARI HURU HARA – TPI (Teras Putiba Indonesia)
Dalam tempo hanya dua bulan terkumpullah 239 puisi tiga bait (putiba) dari 92 penulis. Kehadiran Kitab Putiba HARIHARIHURUHARA ini dipicu oleh keprihatinan warga Teras Putiba Indonesia terhadap virus corona yang tidak kunjung melandai. Bahkan, kurva penyebaran virus menunjukkan tanda-tanda naik. Keprihatinan tersebut ditulis dalam bentuk puisi tiga bait. Kesepian, sakit, keterpurukan, dan perasaan mencekam lainnya menjadi tema yang diusung oleh penulis. Puisi memang tidak bisa meniadakan corona, tetapi setidak-tidaknya puisi itu dapat hadir sebagai memori, saksi, wujud simpati yang bisa dibaca oleh generasi mendatang. Puisi itu bisa mengeluarkan kenangan atas peristiwa pandemic yang mengguncang dunia.
(Tengsoe Tjahjono – Penyair dan Dosen Universitas Negeri Surabaya)
JARAK – Tengsoe Tjahjono
Pandemi ini
Meniadakan jembatan
Sungai curam
Airnya diganggu batuan
Apalagi peluk
Jauh di kedalaman ceruk
EMPAT BELAS HARI – Yayuk Sulistiyowati MV.
Empat belas hari
Kuterbaring di ranjang besi
Jantung berdegup halus
Seirama tetesan infus
Corona menumbangkan
Menyerang tiada memilih
Menyesakkan ulu hati
Mengeringkan kerongkongan
Hari kelima belas
Aku bangun terbebas
Kepanikanku terhempas
Sujud syukur tak berbatas
| 02643 | 899.221 1 TPI h | My Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain