Monograph
Seperjuta Milimeter dari Corona - Pentigraf
SEPERJUTA MILIMETER DARI CORONA – KPI (Kampung Pentigraf Indonesia)
Kitab Pentigraf oleh KPI (Kampung Pentigraf Indonesia) edisi khusus Corona ini lahir bertajuk Seperjuta Milimeter dari Corona pada April 2020 yang diikuti oleh 141 pentigrafis. Pentigraf yang ditulis merupakan bentuk solidaritas dan pengalaman para penulis selama menjalani masa pandemi Covid-19 yang sedang meraja saat itu.
Keberagaman gaya bercerita terjadi karena masing-masing pentigrafis berasal dari latar yang beragam. Para pentigrafis yang bergabung dalam program ini terdiri atas dokter, guru, dosen, guru besar, wartawan, ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa, wiraswastawan, pensiunan, biarawan, dan sebagainya. Tiba-tiba corona menyatukan mereka sebagai sebuah keluarga yang terpanggil untuk mengedukasi masyarakat melalui cerita. Kitab Pentigraf “Seperjuta Milimeter dari Corona” ini biarkan menjadi saksi sejarah bagi narasi pilu yang dihadapi manusia saat virus mematikan itu memapar mereka. (Tengsoe Tjahjono)
Paling tidak 269 pentigraf yang termaktub di dalam antologi ini bercerita lancar tentang hal-hal kecil dan renik personal-subjektif tentang COVID-19, seperti halnya virus corona baru yang juga mahakecil. Rata-rata pentigrafis tampakny terpukau pada aspek “hidup bersama COVID-19” sehingga antologi ini dapat dilihat sebagai mozaik yang berisi keeping-keping pengalaman atau peristiwa psikologis-individu pada saat berhadapan dengan COVID-19. Sebab itu, antologi ini dapat ditempatkan sebagai dokumentasi, memori, dan atau testimoni kondisi dan suasana psikologis-subjektif ketika berada di dalam pandemic virus korona baru. (Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd.)
Berikut ini sebuah kutipan pentigraf yang ditulis oleh Yayuk Sulistiyowati MV., seorang pentigrafis pustakawan SMPK Cor Jesu Malang :
“Pagi itu dingin sekali. Kabut tebal menutupi jalanan. Angin masuk melalui celah-celah dinding paruhan batu bata dan triplek yang aus termakan usia dan lembab. Jalanan lengang, kota ini seperti kota mati. Aku menyusuri trotoar sambil menyeret gerobak dan memungut sampah-sampah warga kampung Bhakti yang setiap hari semakin terasa lebih banyak sejak sekolah diliburkan. Karena wabah virus corona, warga diminta untuk tetap tinggal di rumah selama empat belas hari. Kasihan Wahyu anakku, setiap ada tugas dari gurunya melalui internet, ia kebingungan karena tidak punya telepon seluler yang mampu menampung tugas-tugas itu. Aku bersyukur, pak guru Hudaya selalu menyediakan soal yang dapat diambil Wahyu ke rumahnya, tak jauh dari gubuk reyot kami.”
(Paragraf pertama Bertahan dalam Ketakutan – hlm 271).
Selamat membaca... Salam sehat.
| 02642 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain