Monograph
Eliana
Eliana adalah seorang gadis kecil berusia 12 tahun. Ia memiliki 3 orang adik yang bernama Pukat, Burlian, dan Amelia. Eliana anak yang paling pemberani. Mereka tinggal bersama Bapak dan Mamak di suatu daerah di Pulau Sumatera. Suatu hari, bapaknya yang bernama Syahdan mengajak Eliana dan Amelia pergi ke Kota Kabupaten. Di sana Bapak akan mengurus suatu hal yang penting. Ia pergi ke gedung biru untuk menemui beberapa orang di sana dan meminta Eli dan Amel agar menunggu di toko emas Koh Acung. Setelah beberapa lama, mereka berdua sudah tidak sabar lagi menunggu Bapak dan memutuskan untuk menyusulnya ke gedung biru. Di gedung biru terdengar sedikit keributan dan Eliana mengenali salah satu suara dalam keributan itu. Segera Eliana membuka pintu ruangan sumber keributan dan ikut dalam perdebatan yang sengit itu.
Saat perjalanan pulang, ia dimarahi bapaknya karena kejadian tadi. Selain itu, ia juga mendapat nasihat yang bijaksana dari bapaknya. Eliana membuat keributan tadi karena tidak terima bapaknya dihina dan ia tidak senang akan rencana penambangan pasir yang ingin dilakukan di kampungnya. Ternyata alasan yang kedua benar-benar membuat Eliana marah hingga akhirnya dia sangat membenci “Johan”(nama pemilik tambang pasir) yang sekaligus menghina bapaknya. Eli sampai bersumpah membencinya untuk selamanya dan akan menghentikan rencana penambangan pasir apapun caranya. Ia memutuskan untuk mengajak temannya, Hima, Damdas, dan Marhotap melawan para petugas tambang yang datang dari kota provinsi. Mereka menyebut genk itu “Empat Buntal”.
Suatu malam, ketika semua anak kampung selesai mengaji di rumah Nek Kiba, Marhotap berencana menyerang truk-truk besar penambang dengan balon yang diisi minyak tanah dan mengajak tiga temannya tetapi tidak seorang pun mau menemaninya. Dia terpaksa harus melakukannya sendirian. Semenjak malam itu, Marhotap bagaikan hilang ditelan bumi tak ada yang mengetahui keberadaanya. Sekarang, mereka hanya tinggal bertiga untuk melawan para petugas tambang. Hingga akhirnya mereka mengajak Anton yang juga teman sekolah mereka untuk bergabung dalam misi itu. “Empat Buntal” dengan susah payah menggagalkan penambangan pasir hingga mereka harus benar-benar bekerja keras. Pada suatu ketika saat mereka sedang menjalankan misi, mereka berempat terjebak di dalam kontainer.
Alam mulai menunjukkan amarahnya pada petugas tambang pasir. Saat itu hujan terjadi sangat deras hingga menyebabkan tanggul jebol dan banjir bandang. Semua isi kampung luluh lantak dan rata tanpa terlihat adanya bekas aktivitas penambangan pasir. Air terlihat menjadi keruh. “Empat Buntal” yang terjebak di dalam kontainer akhirnya selamat. Dua puluh tahun berlalu. Kini Eliana sudah menjadi pengacara yang terkenal di kota provinsi. Selain itu, Marhotap yang dulu hilang sudah ditemukan keberadaannya hanya tinggal jasad di tengah kubangan lumpur.
| 00374 | 899.221 3 TER e | My Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain