Monograph
Cara Berbahagia Tanpa Kepala
Pernah terbayang hidup tanpa kepala? Bagaimana kalau kita berandai-andai hidup tanpa kepala, seperti yang tertulis di novel terbaru Triskaidekaman, yang berjudul Cara Berbahagia Tanpa Kepala.
"Uang takkan pernah cukup. Waktu selalu saja lebih sempit daripada celana. Tubuh kita fana. Bagaimana solusinya? Tebang masalahmu, Bebaskan Kepalamu."
Kalimat di atas tersemat di salah satu halaman novel terbaru Triskaidekaman, yang berjudul Cara Berbahagia Tanpa Kepala. Yap, Absurd adalah kata yang mungkin bisa mewakili novel ini, karena Triskaidekaman mengajak pembaca memasuki dunia di mana sosok Sempati, si tokoh utama, terlalu lelah menghadapi hidup. Menghadapi hal yang menurutnya tak lagi punya jalan keluar, selain menceraikan si kepala dari tubuh.
Karena Sempati selalu berpikir kepalanya adalah sumber dari segala hal yang menyebalkan. Berbagai hal yang berhujung pada luka yang membuatnya ingin mengenyahkan kepalanya.
Dibuka dengan penuh kebingungan
Belum apa-apa, novel ini membuka kisah tentang Sempati yang sangat ingin melepaskan kepala dari tubuhnya. Tanpa banyak basa-basi secara urut dan jelas, cara melepaskan kepala tertulis dan membuat orang yang membayangkannya dengan ngeri sekaligus geleng-geleng kepala, karena terlalu absurd.
Kendati Sempati sukses melepas kepalanya, ia kemudian diceritakan masih bisa hidup. Bahkan masih bisa berkegiatan. Termasuk melihat kepalanya yang tertanggal di sudut meja, juga bisa menangis karena diri yang merasa kosong.
Bagaimana bisa? Tanpa kepala masih bisa melihat? Tanpa kepala bisa menangis? Hey, mata itu adanya di kepala, lalu bagaimana bisa? Semua kejanggalan itu kemudian terjawab di lembar-lembar berikutnya.
| 03232 | 899.221 3 TRI c | My Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain