Monograph
Dari Mat Pelor, Sakerah, Hingga Hamid Rusdi
Buku ini merupakan perjalanan yang fantastis, dan membacanya seperti menelusuri lorong waktu di mana pembaca dihadirkan di beberapa momen wawancara dan peristiwa kesenian secara langsung. Membacanya membuat kita serasa hadir dalam perbincangan langsung yang lugas dan santai antara penulis dan subjek dalam tulisan.
-RIvaldi Anjar Saputra-
(Saat ini sedang menempuh pendidikan pascasarjana prodi Filsafat Keilahian di Yogyakarta)
Karya-karya yang ada di dalam buku ini mendobrak kotak-kotak kesenian, ketokohan dan komunitas. Simak saja tulisan Seniman kitiran dari Kebonagung. Penulisannya sangat elegan. Kita seperti diajak berhadap-hadapan dengan Pak Tik. Jagongan sembari ngopi di Warung Bu Jum. Saya bahkan membayangkan hembusan asap dari once sang maestro kitiran wayang. Begitulah, tulisannya dihasilkan daari budaya yang lekat dengan kita, dan jagongan. Yang Pasti gayeng.
-Bagus Ary Wicaksono-
(redaktur pelaksana Malang Post 2009-2020)
| 03273 | 819 ABD d | My Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain